Kadang begitu tergelitiknya diri melihat apa yang telah diperoleh. Menjadikannya begitu kecil daripada keberhasilan yang diperoleh. Begitu congkaknya hati memandang kemampuan diri, mendambakan esensial yang lain.
Sejujurnya, ketidakcukupan hati yang begitu maruknya, terkadang harus dihadapi dengan rasa syukur yang mendalam. Orang sering membandingkan kesyukuran dengan apa yang diperoleh orang lain, namun bagiku, pembanding sejati adalah dengan diri sendiri.
Malam ini, entah bagaimana diri ini bergerilya dalam sebuah “dunia”. Hal-hal terasa datang bagaikan menerkam, menculik dalam kegelisahan. Namun rasa syukur menyadarkan betapa berbahayanya diri ini. Bahwa berharap terkadang bisa begitu berbahaya.
… dan menyakitkan.
Berhati-hatilah pada harapanmu. Karena ia akan menjadi nyata, berhati-hatilah pada mimpimu. Semoga menjadikan diri lebih bijak dalam berharap. :)





